Taut
1

Dear Mums, pernahkah Mums ketemu sama orang yang tingkat ketahanan stress nya rendah banget. Coba deh liat ke sekitar, ada tidak teman, kerabat, atau boss kita, yang rentan banget sama yang namanya stress dan cemas. Sedikit-sedikit marah, sebel, nangis, ngambek, cemas, khawatir yang berlebihan. Melihat tingkah laku bawahan tidak sesuai sama apa yang dia ingin, langsung marah. Melihat handphone nya ketinggalan di mobil, emosi. Kena masalah sedikit aja, menangisnya sampai tiga hari, hehehehe

Kalau Mums penasaran, kenapa di dunia ini bisa sampai ada orang yang seperti itu, mungkin Mums bisa tanyakan langsung ke ibu orang yang bersangkutan : Apa yang terjadi selama masa kehamilan ibu tersebut?

Kenapa demikian?

Well, Mums, terdapat hubungan yang sangat kuat antara stress yang dialami oleh ibu hamil dan tingkat kerentanan terhadap stress yang dimiliki oleh janin. Relasi nya begini, semakin tinggi stress yang dialami ibu hamil, semakin si calon bayi akan rentan terhadap stress dan depresi kalau nanti dia sudah lahir, bahkan hingga ia dewasa.

Menurut sebuah studi, hal ini dikarenakan janin dan ibu sudah mulai “berbagi” segala hal sejak usia kandungan 17 minggu. Sejak itu, janin sudah mulai bisa mendengar dan merasakan. Ibu dan janin akan berbagi banyak hal, mulai dari perasaan cemas, sedih, senang, bahkan bacaan dan makanan favorit. Semakin sering bayi ibu membagi suatu hal khusus dengan janin nya, semakin akrab janin dengan hal tersebut. Sebagai contoh, semakin sering ibu membaca Al-Qur’an, semakin janin akan akrab dengan bacaan Al-Qur’an setelah lahir. Semakin sering ibu makan sayuran, semakin janin akan akrab dengan rasa sayuran nantinya.

Lalu bagaimana dengan mekanisme berbagi stress?
Sebenarnya, secara normal janin memiliki plasenta yang melindunginya dari berbagai “hormon jahat” yang berasal dari aliran darah ibu selama masa kehamilan. Pada wanita yang mengalami stress, depresi, atau kecemasan dalam jumlah yang tinggi atau sering selama hamil, fungsi pelindung plasenta ini akan terganggu/melemah. Akibatnya, perubahan hormon dalam tubuh ibu akibat stress akan lebih mudah “menembus” perlindungan janin dalam berbagai perubahan kondisi plasenta. Misalkan, plasenta mengeruh, atau detak jantung janin yang meningkat lebih dari 160 kali/menit.

Apa akibatnya jika hormon stress sudah menembus plasenta?
Well Mums, hormon stress itu akan mempengaruhi perkembangan otak sekaligus memicu perubahan otak sehingga membuat janin rentan mengalami gejala kecemasan dan masalah perilaku setelah beranjak dewasa. Bahkan, stress dalam kadar yang tinggi dan sering dapat meningkatkan peluang janin mengalami gangguan kesehatan saat usianya baru empat tahun nanti.

So, dearest Mums, pembentukan kepribadian si calon bayi anda ternyata sudah mulai bahkan sejak masa kehamilan lho. Dan luar biasanya, anda juga lah yang ikut menentukan seperti apa bentuk kepribadian anak anda nanti, paling tidak dalam ketahanannya terhadap berbagai masalah. Pastinya, setiap ibu ingin anaknya kuat dalam menghadapi setiap masalah saat tumbuh kembangnya nanti kan? Untuk itu, beware of yourself Mums. Always be happy. Happy selama hamil, happy selama menyusui, dan happy selama-lamanya.. hehe

Warmest Regards,
Bela

Iklan

Satu respons untuk “Kenapa orang gampang stress? Tanyakan pada ibu nya..

  1. Ping-balik: Kenapa orang gampang stress? Tanyakan pada ibu nya.. | momymums

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s